Talawi, 17 Oktober 2026 – Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Talawi, Mak Aljasri Dt. Abubakar, menerima kunjungan tim peneliti dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) penelitian berjudul “Pergerakan Masyarakat Kecamatan Talawi Masa Kolonial Hindia Belanda”, Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, di Kantor KAN Talawi.

Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Tim Peneliti, Dr. H. Fahmil Samiran, Lc., M.A., didampingi dua orang dosen peneliti dan sejumlah mahasiswa. Ketua KAN Talawi turut didampingi oleh pengurus KAN, Syafridi Khatib Besar, serta dua orang staf sekretariat KAN Talawi.

Dalam sambutannya, Dr. H. Fahmil Samiran menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan dapat mengungkap bagaimana masyarakat Talawi bergerak melawan penjajahan sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan masyarakat pada masa lalu.

Penelitian tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir melalui penggalian informasi langsung dari sejumlah narasumber, termasuk pihak pemerintah kecamatan dan Ketua KAN Talawi. Pertemuan pada Sabtu ini menjadi diskusi secara kelembagaan setelah sebelumnya tim peneliti beberapa kali berdiskusi dengan Ketua KAN Talawi secara pribadi.

Menggali Sejarah Perlawanan dan Pembakaran Balai-Balai Adat

Sebagai pengantar diskusi, Mak Aljasri Dt. Abubakar menyampaikan sejarah singkat Nagari Talawi, termasuk perjalanan berdirinya Balai-Balai Adat dan Kantor KAN Talawi. Ia kemudian memaparkan kisah pergerakan masyarakat Talawi dalam menghadapi kolonial Belanda.

Menurut penuturan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun, Balai-Balai Adat Nagari Talawi pada masa dahulu berada di depan Pasar Talawi, berdampingan dengan Kantor Wali Nagari.

Pada Selasa, 4 Januari 1949, ketika berlangsung Agresi Militer Belanda II, Balai-Balai Adat, Kantor Wali Nagari, dan beberapa Rumah Gadang kaum dibakar oleh Belanda. Dalam penuturan yang disampaikan Ketua KAN Talawi, peristiwa tersebut berkaitan dengan kuatnya perlawanan masyarakat setempat. Salah satu bentuk perlawanan yang dikisahkan ialah tindakan masyarakat menumbangkan batang pohon besar untuk menghalangi jalan yang akan dilalui pasukan Belanda.

Balai-Balai Adat dan sejumlah bangunan lainnya disebut menjadi sasaran karena dipandang sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk menyusun pergerakan perlawanan. Kisah ini menjadi salah satu bagian sejarah lokal yang digali dalam diskusi bersama tim peneliti.

Dalam pemaparannya, Ketua KAN Talawi juga menjelaskan bahwa kehadiran kolonial Belanda meninggalkan dua sisi pengalaman bagi masyarakat. Di satu sisi, sejumlah infrastruktur yang dibangun pada masa itu, seperti jalan dan bangunan tertentu, masih dimanfaatkan hingga sekarang. Namun, di sisi lain, masyarakat mengalami tekanan, mulai dari pembatasan kehidupan, perampasan hasil pertanian yang menjadi sumber penghidupan, hingga kerja paksa.

Salah satu kisah yang disampaikan ialah mengenai masyarakat Talawi yang dahulu diperintahkan bekerja paksa di Logas atau masyarakat Talawi menyebutnya Loge, wilayah yang kini berada di Provinsi Riau. Menurut cerita yang diwariskan, mereka menghadapi kondisi kerja dan kehidupan yang sangat berat, dengan kebutuhan pangan yang tidak tercukupi. Akibatnya, orang yang dikirim ke wilayah tersebut memiliki peluang yang sangat kecil untuk kembali.

Surau dan Keimanan sebagai Bagian dari Kekuatan Masyarakat

Diskusi juga menyoroti hubungan antara keimanan masyarakat dan pergerakan melawan penjajahan. Ketua Tim Peneliti menanyakan peran organisasi Islam maupun organisasi pergerakan lainnya serta tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan di Talawi.

Menanggapi hal tersebut, Mak Aljasri Dt. Abubakar menjelaskan bahwa perlawanan masyarakat Talawi tidak bergerak atas nama satu organisasi tertentu. Perjuangan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari niniak mamak, alim ulama, bundo kanduang, santri, hingga masyarakat secara luas.

Ia juga mengakui bahwa keimanan menjadi salah satu kekuatan penting masyarakat Talawi dalam menghadapi penjajahan. Keimanan tersebut dipelihara dan diperkuat melalui pendidikan agama di surau-surau.

Pada masa dahulu, Talawi dikenal memiliki Surau Nan Tujuah. Surau-surau tersebut menjadi tempat masyarakat mempelajari agama dan memperkuat keimanan. Salah satu yang dikenal ialah Surau Godang, yang terletak di tepi Sungai Ombilin. Di tempat ini, berbagai kitab dikaji dan pendidikan agama diperdalam. Santrinya tidak hanya berasal dari Talawi, tetapi juga dari daerah lain, termasuk Pariaman.

Dalam diskusi tersebut turut disebut sejumlah tokoh yang dikenal dalam sejarah Talawi, baik di tingkat nasional maupun lokal, di antaranya M. Yamin, Adinegoro, Djalaludin, Angku Ishak, Syekh Tampuo, serta M. Ratin Dt. Rajo Kuaso yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di depan Balai-Balai Adat.

Pemaparan tersebut menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Talawi merupakan bagian dari pengalaman kolektif berbagai unsur masyarakat, bukan semata-mata kisah sejumlah tokoh tertentu.

Penyusunan Hasil Penelitian Akan Melibatkan KAN Talawi

Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian pengumpulan informasi yang telah dilakukan tim peneliti selama beberapa bulan. Hasil diskusi bersama Ketua KAN Talawi nantinya akan disatukan dengan informasi dari pertemuan sebelumnya. Jika masih diperlukan, penggalian informasi akan dilanjutkan untuk melengkapi hasil penelitian.

Sebelum dipublikasikan, hasil penyusunan penelitian tersebut direncanakan diserahkan kepada pihak-pihak terkait, termasuk KAN Talawi, untuk dikoreksi. Langkah ini diharapkan dapat membantu memastikan kesesuaian informasi yang disajikan dengan keterangan dan sumber sejarah yang telah dihimpun.

Ketua KAN Talawi berharap diskusi dan kajian yang dilakukan dapat saling melengkapi serta memberikan manfaat bagi semua pihak. Upaya tersebut diharapkan turut membantu mendokumentasikan sejarah perjuangan masyarakat Talawi agar dapat dipelajari dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Melalui kolaborasi antara tim peneliti dan KAN Talawi, sejarah lokal tidak hanya menjadi bagian dari ingatan yang diwariskan secara lisan, tetapi juga dapat dihimpun dan dikaji secara lebih sistematis sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *